Sebenarnya kata yang lebih tepat bukanlah etiologi, melainkan faktor risiko karena sampai sekarang etiologi skizofrenia itu sendiri belumlah diketahui secara pasti. Tidak ada keterangan tunggal yang dapat menjelaskan mengenai kejadian gangguan tersebut. Namun dikatakan beberapa faktor risiko diduga berperan dalam menimbulkan gangguan skizofrenia. Para ahli membagi faktor risiko gangguan skizofrenia ini menjadi faktor biologi, psikologi dan sosial. Termasuk di sini seperti faktor genetika, faktor kepribadian, faktor neurotransmiter, faktor trauma natal dan perinatal, faktor infeksi pada saat kehamilan (toxoplasma gondii), faktor pola asuh masa kanak, faktor lingkungan dll. Telah banyak diketahui dari aspek neurotransmiter, bahwa pada penderita gangguan skizofrenia dijumpai adanya hiperaktivitas neuron dopaminergik sehingga didapati jumlah neurotransmiter dopamin yang berlebihan di sinaps neuron penderita dengan gangguan skizofrenia. Namun pada kesempatan ini, akan dijelaskan dari aspek yang lain yaitu dari aspek genetika.
Salah satu gangguan yang saat ini sedang trend sebagai faktor risiko terjadinya gangguan psikotik khususnya gangguan skizofrenia adalah 22q11.2 deletion syndrome. Sindroma ini disebabkan hilangnya sedikit bagian tengah dari lengan panjang kromosom 22 manusia. Angka insidensinya adalah sekitar 1:4000 kelahiran.
Berikut ini beberapa lokasi gen pada kromosom 22 manusia:
| Locus | Gene | Description | Condition |
| 22q11.21 | TBX1 | T-box 1 | |
| 22q11.21-q11.23 | COMT | catechol-O-methyltransferase gene | |
| 22q12.1-q13.1 | NEFH | neurofilament, heavy polypeptide 200kDa | |
| 22q12.1 | CHEK2 | CHK2 checkpoint homolog (S. pombe) | |
| 22q12.2 | NF2 | neurofibromin 2 | bilateral acoustic neuroma |
| 22q13 | SOX10 | SRY (sex determining region Y)-box 10 | |
| 22q13.2 | EP300 | E1A binding protein p300 | |
| 22q13.3 | WNT7B | Wingless-type MMTV integration site family, member 7B | |
| 22q13.3 | SHANK3 | SH3 and multiple ankyrin repeat domains 3 | 22q13 deletion syndrome |
Tanda dan gejala sindroma ini sangatlah bervariasi (spektrum) sehingga dikenali dengan nama lain seperti velo-cardio-facial syndrome (juga disebut Shprintzen’s syndrome), DiGeorge syndrome, hearing loss with craniofacial syndromes and conotruncal anomaly face syndrome. Nama lain yang juga dikenal adalah CATCH-22 syndrome yang merupakan akronim dari: C = cardiac defects, A = abnormal facies, T = thymic hypoplasia, C = cleft palate, H = hypocalcemia, 22 = microdeletions in chromosome 22.
Secara spesifik simptom penderita 22q11 deletion bervariasi dari paling ringan sampai paling berat (ada sekitar 200 simptom), antara lain:
- Congenital heart disease (74%), khususnya conotruncal malformations (tetralogy of Fallot, interrupted aortic arch, ventricular septal defect, dan persistent truncus arteriosus)
- abnormalitas palatum (69%), khususnya velopharyngeal incompetence (VPI), submucosal cleft palate, dan cleft palate; ditandai dengan ciri wajah (ada pada sebagian besar ras Caucasia) termasuk hipertelorisme.
- gangguan belajar (70-80%)
- defisiensi imunologi (77%)
- hipokalsemia (50%)
- gangguan menyusu (30%)
- kelainan ginjal (37%)
- hilang pendengaran (konduksi dan sensoris)
- kelainan laryngotracheoesophageal
- defisiensi hormon pertumbuhan
- gangguan autoimun
- kejang-kejang (tanpa hipokalsemia)
- abnormalitas skeletal
- Autisme and Autism spectrum disorders
Suatu penelitian longitudinal/prospektif/kohort yang dilakukan oleh Doron Gothelf dkk (Am J psychiatry 2007;164:663-669) terhadap 60 anak (31 anak dengan 22q11.2 deletion syndrome dan 29 anak sebagai kontrol) menunjukkan bahwa setelah menjadi remaja dijumpai 32,1% anak dengan 22q11.2 deletion syndrome mengalami gangguan psikotik dibandingkan dengan kontrol yang hanya 4,3% yang mengalami gangguan psikotik.
Diagnosis 22q11.2 deletion syndrome dengan menggunakan fluorescence in situ hybridization (FISH) menggunakan DNA probes dari regio kromosom DiGeorge (DGCR). Kurang dari 5% individu dengan gejala klinis 22q11.2 deletion syndrome menghasilkan sitogenetik rutin yang normal dan tes FISH yang negatif.
Dalam hal terapi, penggunaan metode genetic transplantation masih dalam penelitian, sehingga sampai saat ini belum dijumpai secara pasti penatalaksanaan secara genetika (rekayasa genetika). Namun demikian penatalaksanaan yang dilakukan bersifat simptomatis seperti pemberian kalsium, antibiotik bila ada infeksi, bedah jantung bila dijumpai kelainan jantung bawaan.


Leave a comment