Identifikasi dan imitasi merupakan metode pembelajaran tersering
Masalah identifikasi
Albert Bandura merupakan seseorang yang sangat concern mengenai metode pembelajaran khususnya identifikasi. Manusia sebagai makhluk sosial yang dianugerahi Yang Mahaesa kemampuan untuk belajar dan meneliti orang lain. Jika anda melihat seseorang terluka atau tidak, terkena hukuman atau mendapat imbalan dan sebagainya, maka anda akan dapat mengidentifikasi perilaku orang tersebut dan belajar dari pengalaman orang tersebut (memang sebaik-baiknya belajar pengalaman adalah dari pengalaman orang lain, bukan dari pengalaman diri sendiri).
Orangtua seringkali merasa kurang nyaman karena anak mereka berbeda dengan mereka dalam banyak hal, meskipun mereka telah berusaha agar anaknya menjadi sama dalam banyak hal. Anak-anakpun seringkali terkejut betapa mereka sama dengan orangtuanya, padahal mereka mereka telah berusaha untuk berbeda.
Masalah Imitasi
Albert Bandura memfilmkan salahsatu aktivitas muridnya sbb: Seorang anak gadis terlihat tengah menghajar habis-habisan sebuah boneka. Boneka tersebut adalah boneka yang bisa dipompa dengan udara, dimana bagian bawah boneka tersebut bisa diletakkan pemberat sehingga saat boneka tersebut dihajar maka dia akan tetap berada di tempatnya kembali. Kemudian Bandura melukis boneka tersebut sehingga mirip dengan seorang badut. Gadis tersebut bergerak menuju badut sambil berteriak “sockeroo” dan menendang, membanting, memukul badut tersebut dengan palu kecil seraya meneriakkan kata-kata agresif lainnya.
Di kesempatan lain, Bandura menunjukkan film tersebut kepada sekelompok anak TK yang diprediksikan akan menyukai boneka tersebut. Mereka dibiarkan bermain sambil meonton film tersebut. Dalam ruangan yang sama diletakkan juga pena, kertas, boneka baru dan beberapa palu kecil. Kemudian apa yang terjadi?
Mungkin prediksi anda sama dengan penulis. Kebanyakan dari anak tersebut menghajar boneka sepanjang waktu. Mereka meninjunya dan memukulnya sambil berteriak “sockeroo” serta kata-kata lain menirukan perilaku gadis yang ada di dalam film tersebut. Dengan kata lain para anak-anak tersebut menirukan adegan yang ada di film tersebut. Mereka segera mengubah perilaku mereka walaupun tanpa diberikan hadiah bila mereka lakukan, semuanya dilakukan secara sukarela tanpa paksaan.
Bisa anda bayangkan perilaku tersebut terjadi di sekitar kita dan menimpa anak-anak kita. Setiap hari anak-anak kita terpapar dengan apa yang namanya tindakan kriminal (kekerasan fisik, penyiksaan, perkelahian, pembunuhan, pemerkosaan, pembantaian, penculikan, pelecehan seksual dsb). Tentu saja mereka dapat dengan mudah mengaksesnya dari media massa seperti tayangan televisi, film, play station, dan internet. Bagaimanakah solusinya?


Leave a comment