Sindroma anxietas ditandai dengan gejala-gejala kecemasan. Ada 4 inti gejala kecemasan yaitu gejala motorik, gejala otonomik, khawatir dan kewaspadaan berlebihan. (1) Gejala motorik meliputi: gemetar, muka tegang, nyeri otot, nyeri dada, letih, pegal, tics pada wajah, sakit kepala, sakit leher dan gejala lainnya yang berkaitan dengan fungsi otot. (2) Gejala otonomik berupa hiperaktivitas saraf otonomik terutama saraf simpatis ditandai dengan gejala; palpitasi, hiperhidrosis, sesak nafas, diare, parestesia dll.
(3) Rasa khawatir yang berlebihan terutama mengenai hal-hal yang belum terjadi seperti mau mendapat musibah, madesu dll. (4) Kewaspadaan yang berlebihan meliputi gejala tidur terganggu, sulit berkonsentrasi, mudah terkejut, tidak bisa santai dll.
Pada pemeriksaan lebih lanjut biasanya tidak dijumpai adanya patologi organ namun terdapat mekanisme patofisiologi tertentu.
Interaksi dokter-pasien akan membuat pasien lebih tenang dan tidak memperberat gejala yang ada. Dokter harus mendengarkan keluhan pasien dengan sabar dan dapat meyakinkan pasien dengan sebaik-baiknya. Diperlukan dukungan keluarga dan lingkungan yang suportif dan kondusif.
Farmakoterapi biasanya dengan obat antianxietas, baik golongan benzodiazepin maupun nonbenzodiazepin. Penggunaan obat golongan benzodiazepin tidak boleh melebihi 3 bulan untuk mengurangi risiko ketergantungan benzodiazepin.


Leave a comment