Di UGD seringkali dijumpai penderita yang menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan keadaan klinis yang sebenarnya, misalnya kejang-kejang namun tidak sesuai dengan pola kejang yang biasanya, contoh lainnya adalah pingsan tetapi tidak seperti pingsan yang sebenarnya. Hal ini dinamakan histeria. Bila berkaitan dengan kelumpuhan anggota gerak, maka dinamakan histeria paralisis. Bila berkaitan dengan pingsan, dinamakan koma psikogenik.
Ada beberapa teknik yang sering dipakai untuk membuktikan apakah seseorang mengalami histeria atau tidak. Teknik yang paling sederhana adalah dengan melihat refleks pupil, hal ini biasa dipakai seorang dokter di klinik. Selain itu ada teknik lain yaitu dengan melihat otot sternokleidomastoideus. Kepala pasien diarahkan ke kanan. Kerja otot sternokleidomastoideus kiri akan menggerakkan kepala ke arah kanan. Pada pasien histeria/psikogenik, otot sebelah kiri tersebut terlihat lemah atau tidak berkontraksi saat kepala diubah arahnya ke arah kiri (atau arah yang sebaliknya). Lihat gambar berikut!
Berikut ini untuk membedakan paralisis histeria dengan paralisis sebenarnya. Letakkan kedua tangan kita di ujung bawah kedua kaki penderita, lalu suruhlah penderita untuk mengangkat kaki yang sehat. Pada A, akan terasa peningkatan tekanan ke bawah oleh kaki yang “paralisis.” Pada B, suruh pasien untuk mengangkat kaki yang paralisis, akan dirasakan sedikit atau tidak ada sama sekali tekanan. Pada C, suruh pasien mengangkat kedua kakinya, seharusnya dirasakan tekanan yang sama pada tangan pemeriksa sebagaimana pada gambar A.
Teknik ketiga adalah dengan mengangkat tangan pasien yang dirasakan lemah, angkat sampai tepat di atas muka, lalu dilepaskan. Pada pasien yang koma sebenarnya, maka tangan akan jatuh di wajah, sedangkan pada pasien koma psikogenik, tangan tersebut akan menghindari mukanya.





Leave a comment