Sindroma Konversi

By

1–2 minutes

To read

kera.jpg

Sindroma konversi seringkali kita jumpai sehari-hari. Penderita mempunyai baik gejala fisik maupun gejala psikis. Gejala fisik berupa; (1) gangguan fungsi motorik/sensorik tunggal (seperti paralisis, afonia, kejang-kejang, parestesia), namun gejala-gejala ini sulit sekali dikaitkan dengan gambaran klinis penyakit tertentu. (2) biasanya gejala ini muncul berkaitan dengan peristiwa tertentu atau stimulus lingkungan, namun di luar kendali volunter pasien (di bawah pengaruh proses bawah sadar). Tidak dijumpai adanya mekanisme patofisiologik dan patologi organ di sini.

Gejala psikis-nya berupa; (1) tidak adanya keterlibatan emosional terhadap keluhan, (2) pasien mendapatkan keuntungan sekunder (secondary gain) dari peristiwa tersebut, misalnya dapat menghindar dari aktivitas tersebut atau menolak kewajiban tertentu, (3) pasien mendapatkan dukungan sosial dari lingkungannya.

Tidak ada indikasi untuk menggunakan obat tertentu (psikotropik tertentu). Pasien jangan dituduh dari awal berpura-pura atau sengaja melakukan hal tersebut, karena tindakan tersebut tidak akan menguntungkan keduanya. Sebaliknya dibutuhkan kedekatan emosional karena hal ini biasanya terkait dengan kepribadian seseorang.

Leave a comment

Ama Ndlovu explores the connections of culture, ecology, and imagination.

Her work combines ancestral knowledge with visions of the planetary future, examining how Black perspectives can transform how we see our world and what lies ahead.