Safety Culture, Just Culture dan No Blame Culture

Ketiga istilah tersebut di atas seringkali digunakan dalam Keselamatan Pasien (Patient Safety), namun ketiganya mempunyai definisi yang berbeda.

Safety Culture adalah suatu budaya organisasi yg menempatkan keselamatan pasien sebagai nilai utama, yg berfokus pada sistem keselamatan secara menyeluruh, dengan tujuan mencegah terjadinya insiden.

Just Culture adalah budaya yg membedakan kesalahan manusia yg tidak disengaja dengan pelanggaran yg disengaja, berfokus pd keadilan dan akuntabilitas, dengan tujuan menegakkan keadilan dalam investigasi insiden.

No Blame Culture adalah budaya yg tidak langsung menyalahkan individu ketika terjadi kesalahan, yg berfokus pd pelaporan tanpa rasa takut, dengan tujuan meningkatkan pelaporan insiden.

Prinsip filosofi dasar No Blame Culture: “Jangan langsung menyalahkan orang ketika terjadi kesalahan (mencari kambing hitam).” Sebagai contoh, ketika seorang perawat salah memberikan obat karena label obat sangat mirip, pendekatan tradisional: (1) Cari siapa yg salah, dan (2) Berikan surat peringatan, sedangkan pendekatan No Blame: (1) Mengapa kesalahan bisa terjadi, (2) Apakah label obat membingungkan, dan (3) Apakah pencahayaan ruangan cukup? Inti pendekatan No Blame adalah mencari akar masalah sistem, sehingga memberikan keuntungan (1) Staf berani melapor, (2) Insiden lebih banyak terdeteksi dan (3) Organisasi belajar lebih cepat.

Rumah Sakit yg ingin menjadi RS Ramah Keselamatan Pasien (RS-RKP) atau mempertahankan akreditasi paripurna harus membangun Safety Culture, menggunakan Just Culture sebagai mekanisme investigasi dan menerapkan No Blame Culture sebagai upaya untuk mendorong pelaporan insiden secara terbuka.



Leave a comment